overtourism
saat kecintaan kita pada sebuah tempat justru menghancurkan tempat tersebut
Pernahkah kita menabung berbulan-bulan demi sebuah liburan impian? Bayangkan kita akhirnya tiba di Kyoto untuk melihat kuil yang damai, atau mendarat di Bali demi senja yang sunyi di tepi pantai. Namun, sesampainya di sana, realitas menghantam keras. Tidak ada kesunyian. Yang ada hanyalah lautan manusia, tongkat selfie yang saling beradu, dan kemacetan panjang yang membuat kita lebih stres daripada saat bekerja di kantor.
Kita mungkin menggerutu melihat keramaian itu. Namun, ada satu kenyataan pahit yang jarang mau kita akui. Kita bukanlah orang yang terjebak dalam kemacetan turis; kitalah kemacetan itu sendiri.
Inilah ironi terbesar dari budaya liburan modern. Kita mencari keindahan, kedamaian, dan keaslian. Namun, dorongan kolektif kita untuk mendatangi tempat- yang sama justru menghancurkan hal-hal yang kita cari. Fenomena ini punya nama. Dunia menyebutnya sebagai overtourism. Mari kita duduk sebentar dan membedah mengapa cinta kita pada suatu tempat bisa berujung pada kehancurannya.
Untuk memahami kekacauan ini, kita harus mundur sedikit. Bepergian untuk bersenang-senang sebenarnya adalah konsep yang cukup baru dalam sejarah manusia. Dulu, orang bepergian hanya untuk berdagang, berperang, atau ziarah agama. Semuanya berubah pada abad ke-19 ketika seorang pria bernama Thomas Cook menciptakan paket wisata massal pertama. Tiba-tiba, dunia menjadi taman bermain.
Lompat ke hari ini, dan kita punya resep bencana yang sempurna: penerbangan murah, kelas menengah yang bertumbuh, dan tentu saja, media sosial. Secara psikologis, otak kita sangat rentan terhadap herd behavior atau mentalitas kawanan. Saat kita melihat ribuan foto indah di ujung tebing Nusa Penida atau di depan Menara Eiffel bertebaran di feed Instagram, otak kita melepaskan dopamin. Muncul dorongan kuat yang kita kenal sebagai Fear Of Missing Out (FOMO). Kita merasa harus ke sana untuk membuktikan eksistensi dan status sosial kita.
Namun, ada satu masalah besar dari tren psikologis ini. Destinasi wisata bukanlah layar digital yang tak terbatas. Mereka adalah ruang fisik. Dan di sinilah sains mulai membunyikan alarm bahaya, sebuah alarm yang sering kali kita abaikan demi sebuah konten.
Dalam ilmu biologi dan ekologi, ada sebuah konsep mutlak bernama carrying capacity atau daya dukung lingkungan. Ini adalah jumlah maksimum individu yang bisa ditampung oleh suatu lingkungan tanpa merusak ekosistem tersebut. Bayangkan sebuah spons cuci piring. Ia bisa menyerap air dengan sangat baik, tapi begitu batasnya terlewati, air hanya akan tumpah dan membuat berantakan.
Hal yang sama terjadi pada kota dan pulau. Ketika kapasitas ini dilanggar, dampaknya sangat brutal. Sumber daya air bersih di sebuah pulau tropis tersedot habis untuk mengisi kolam renang hotel bintang lima, sementara sumur warga lokal mengering. Terumbu karang mati karena bahan kimia dari tabir surya ribuan perenang tiap harinya. Gunung-gunung penuh dengan tumpukan sampah plastik.
Teman-teman, ini adalah contoh klasik dari apa yang dalam sosiologi disebut sebagai Tragedy of the Commons (Tragedi Kepemilikan Bersama). Ini adalah sebuah bias kognitif di mana kita berpikir, "Ah, sampahku cuma satu," atau "Ah, kehadiranku di sini tidak akan merusak apa-apa." Masalahnya, ada jutaan orang lain yang berpikir persis seperti kita di saat yang bersamaan. Lalu, siapa yang pada akhirnya harus membayar mahal dari tragedi ini?
Jawaban dari pertanyaan itu adalah bagian paling menyedihkan dari overtourism. Kita sering dicekoki narasi bahwa pariwisata selalu membawa kesejahteraan ekonomi. Fakta ilmiahnya tidak sesederhana itu. Ada fenomena ekonomi yang disebut economic leakage (kebocoran ekonomi). Uang yang kita bayarkan untuk hotel jaringan internasional, aplikasi pemesanan tiket, dan penerbangan, sebagian besar mengalir keluar dari negara atau daerah tersebut. Hanya remah-remahnya yang jatuh ke tangan penduduk asli.
Lebih buruk lagi, overtourism merampas jiwa sebuah tempat. Harga sewa rumah melonjak gila-gilaan karena diubah menjadi penginapan harian, mengusir warga lokal dari tanah kelahiran mereka sendiri. Toko kelontong dan pasar tradisional mati, digantikan oleh kafe-kafe aesthetic dan toko suvenir buatan pabrik.
Budaya lokal perlahan mengalami Disneyfication. Tradisi sakral yang dulunya penuh makna kini dimodifikasi, dipersingkat, dan dipoles hanya untuk memuaskan durasi perhatian turis yang pendek. Penduduk lokal berhenti menjadi manusia dan berubah menjadi sekadar properti foto atau aktor figuran dalam taman hiburan yang dulunya adalah rumah mereka. Tempat itu kehilangan ruhnya, tepat di depan mata kita.
Mendengar semua ini mungkin membuat kita merasa bersalah. Tapi tunggu dulu, tujuannya bukan untuk membuat kita berhenti traveling. Menjelajahi dunia adalah salah satu cara terbaik untuk meluaskan empati dan pemahaman kita tentang kemanusiaan. Yang harus kita ubah adalah mindset dan cara kita melakukannya.
Kita harus mulai beralih dari ego-wisata menjadi eko-wisata. Sebelum memesan tiket, mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar ingin mengenal budaya tempat ini, atau saya hanya butuh latar belakang yang bagus untuk foto saya?
Mulailah mencari destinasi alternatif yang memang membutuhkan dorongan ekonomi, bukan tempat yang sudah sesak napas. Belanjakan uang kita di warung milik warga lokal, bukan di jaringan raksasa multinasional. Hormati carrying capacity sebuah tempat. Datanglah sebagai tamu yang tahu diri, bukan sebagai konsumen yang merasa berhak atas segalanya hanya karena sudah membayar.
Pada akhirnya, mencintai sebuah tempat berarti kita harus melindunginya. Terkadang, perlindungan terbaik yang bisa kita berikan pada tempat yang sangat indah adalah dengan membiarkannya bernapas sejenak dari kehadiran kita.